Aku lulusan dari salah satu pondok pesantren di Jawa Timur. Statusku kini adalah seorang muballigh. Aku diutus oleh guruku untuk mengajarkan islam di Irian Jaya. Masa tugasku kurang lebih 1,5 tahun disana. Perjalanan amat panjang. Saku yang diberikan tidak mencukupi untuk ongkos dan kehidupanku disana nanti. Demi agama, aku rela “niat karena Allah dalam fisabilillah”. Kuputuskan untuk menumpang kapal barang. Katanya 30 hari aku bisa sampai di Irian. Ku beli mi instant satu dos untuk bekal. Dan akupun berlayar
Berbagai kegiatan kulakukan diatas kapal. Makan, minum, mandi, tidur, mengaji dan pastinya sambil berda’wah. Ya, alhamdulillah ada beberapa awak kapal yang mulai sholat lima waktu, dan bisa membaca Alquran.

“alhamdulillah” ucapku begitu melihat pulau itu. Pulau Irian katanya.
Begitu aku turun ada orang menyambutku “assalamualaikum, alhamdulillah. Sehat mas?” kata bapak itu. “alhamdulillah sehat. Perjalanan amat panjang” ucapku. Kamipun tertawa kemudian ia menuntunku menuju motornya. Perjalanan sekitar 2 jam
Kulihat bangunan berwarna hijau amat sangat sederhana diatasnya ada kubah yang berukuran sedang. “ini masjid di desa kami mas”, “disini ada sekitar 20 kk”. Aku mengangguk-angguk mendengar segala keterangan dari pak kepala desa. Disana aku bener-bener disambut dan dijamu. Seneeng banget
Setengah bulan terlewati, ada seorang gadis yang selama waktu itu membuat aku tertarik. Dari pakaiannya, tutur bicaranya, dari caranya membaca Alqur’an. Gadis itu seorang muballighoh. Setahun yang lalu ia bertugas disini. Kami berdua sering sharing/musyawarah tentang agama, masyarakat sekitar, dll.
Di masa tugasnya yang berakhir ia memutuskan untuk menetap disini “perjuangan disini amat besar mas. Tekad saya bener-bener bulat di fisabilillah dan mati dalam keadaan yang sangat baik (mati sahid)” jawabnya setelah aku bertanya akan keputusannya. Aku bangga mendengarnya. Malam setelah aku berbicara dengannya kuputuskan untuk menikahinya. Esok harinya aku melapor kepada pak kepala desa akan niatku. Jawabannya “ bungkuuus”
Namun tiba-tiba pak kepala desa datang ke kamarku di sebelah masjid. Katanya ada telpon dari pondok pesantren “penting”. “amal soleh kamu berangkat ke jawa tengah besok, karena kamu dibutuhkan disini. Ada muballigh penggantimu ia sudah berangkat kemarin dengan pesawat terbang” ucap guruku. Pikiranku kacau, berbagai kalimat hanya berputar dikepalaku tak bisa terucap. “iya pak. Alhamdulillahi djaza Kaullahu Khoiro” ucapku. Obrolanpun terputus. Aku ga tau berpikir mulai dari mana, gadisku, ongkosku, caraku menuju kesana. Segera aku lari kerumah pak kepala desa kukatakan bahwa aku harus ke jawa tengah besok. Kepala desa dan beberapa kepala keluarga lain mulai kelimpungan dan sigap.
Kukatakan pada gadisku bahwa aku janji akan menikahinya. Aku juga sudah bertemu dengan muballigh penggantiku. Gadisku berkata “saya akan menunggumu hingga kamu kembali”
Hatiku tenang, aku pergi tanpa beban dikepala. Aku diterbangkan dengan helicopter. Dipiloti oleh teman baik pak kepala desa. Perjalanan berlanjut terus dengan saling mengoper dari banud satu ke banud lain sampai ke jawa. Disana aku dijemput oleh saudara salah satu warga irian yang aslinya dari jawa.
Tibalah aku di tempat tujuan. Disana sedang terjadi konflik. Aku dibutuhkan untuk membantu meredakan suasana. Ketegangan mulai reda. Kegiatan mulai berjalan normal. Tiba suatu hari aku ditangkap polisi, dipenjara selama 6 tahun, aku difitnah. Aku pasrah dan Ikhlas
6 tahun masa pembebasanku, ku cium tanah depan gerbang pintu LP “ Alhamdulillah ya Allah”
Ku tanyakan tentang gadisku pada muballigh penggantiku saat berada di Irian katanya ia sudah menikah. Aku istirjak berharap akan yang lebih terjadi kepadaku
Aku kembali ke pondok. Bertemu kangen dengan guruku, disana pula aku menyunting seorang gadis
Puluhan tahun berlalu kegiatan ke muballighanku setelah menikah tidak berhenti. Aku tetap aktif berda’wah kesana kemari dari pulau kepulau meninggalkan anak istri.
Acara akbar diadakan di salah satu daerah di jawa timur. Disana berkumpul para ulama-ulama besar. Disana pula aku bertemu dengan dia gadisku yang kedua kalinya. Ia kaget “kamu???”ucapnya, saya hanya tersenyum. “kamu masih hidup??” aku bingung mendengar ucapannya “kata temanmu kamu sudah meninggal dipenjara”,”innalillahi wa inna ilaihi roji’un” kataku “ siapa yang bilang begitu??” tanyaku heran, “Mahmud”jawabnya,”innalillahi wa inna ilaihi roji’un”. Mahmud adalah teman pondokku. Kebetulan ada suatu hal juga ia ke Irian dan mengenal gadisku. Warga disana sudah mengetahui bahwa gadisku adalah calonku. Kamipun bercerita meluruskan kesalah pahaman yang terjadi sambil tertawa lucu. Dan ternyata gadisku itu sekarang sudah janda, mahmud meninggal karena sakit yang di deritanya. Bisa aja aku menjadikannya istri yang kedua, tapi… Aku merasa belum mampu. Gadiskupun dinikahi oleh orang lain juga sebagai istri yang kedua.
Inilah qadar Allah. Yang ada ikhlas, pasrah dan berdoa

– the end –