Aku wanita berumur 40 tahun menikah 12 tahun yang lalu. Alhamdulillah sekarang memiliki 2 orang putri yang cantik dan lucu. Setelah lama menunggu dan hampir pupus bahwa kami tidak akan memiliki keturunan akhirnya pada tahun ke 4 pernikahan kami, aku hamil yang pertama. Benar-benar rasanya dunia dipenuhi dengan pelangi. Semua orang tersenyum, baik yang dikenal maupun tak dikenal seolah merekapun mengetahui kebahagiaan kami. Aku menjadi lebih manja dengan suamiku. minta ini itu mau kesana kesitu dituruti, Seneng deh.  Disaat kehamilanku menginjak usia 8 bulan aku mengalami penyakit kulit. seperti bentol melebar, kemerahan, rasanya gatal sekali. bentol itu tumbuh bukan hanya di satu tempat. Bentol itu tumbuh di tepi kening, 2 siku tangan, juga 2 lututku, bahkan hampir di seluruh tubuh.  Saat memeriksakan diri kedokter katanya itu muncul karena pengaruh stress. Aku nggak ngerti, stress kenapa? aku merasa enjoy menjalani kehamilan ini malah gembira. Tapi emang ada sedikit rasa cemas, karena kehamilan pertama, yang kata orang begini begitu, dll. Setelah beberapa bulan mendekati masa kelahiran mendadak kepalaku pusiiing berat, pundak dan tengkuk rasanya tegang, saat diperiksakan ke dokter ternyata aku darah tinggi, terus terang aku tegang. Kata orang, melahirkan itu bagaikan berdiri di ambang kematian. “tenang bu, santai aja nanti saya bantu koq. saya selalu standby dihari H nya. Serahkan semua sama saya, percaya deh” kata dokter kandungan laki-laki muda di salah satu rumah sakit terkemuka. Setelah beberapa minggu menjalani pemeriksaan rutin setiap hari tibalah saatnya dengan sedikit kepanikan dan perjuangan lahirlah seorang anak perempuan secara normal “alhamdulillah”

5 tahun berlalu, kami membesarkan anak pertama kami dengan berpindah-pindah karena tuntutan pekerjaan suami. Suami sering pergi keluar kota, keluar negri meninggalkan kami berdua kadang 2 minggu bahkan berbulan bulan. Sedih, apalagi saat si buah hati menanyakan ayahnya disaat pergi, saat sakit. Tapi apa boleh buat, keadaan sudah ditentukan begini. Tiba-tiba aku merasa keadaanku aneh merasa mual dan pusing, akhirnya aku melakukan test pack hasilnya positif. Kehamilan kedua ini rasanya lain, biasa dan ga bisa bermanja-manja karena suamiku sering pergi. Anakku kedua lahir perempuan  diusia anakku yang tertua menginjak 6 tahun, “Alhamdulillah”.

Satu bulan kemudian, disaat kami akan tidur malam suamiku berkata “aku mau mengatakan sesuatu?” , aku heran  tumben dia ingin berbicara. selama menikah mungkin aku bisa menulis diatas kertas berapa kali dia berbicara secara pribadi dg ku istrinya. “besok aja, udah malam” ucapku. “nggak, aku mau bicara sekarang” ucapnya,”kenapa mas, mendesak sekali?”,”aku kawin lagi”, “kamu itu ngomong apa nggak lucu ah ” kataku bercanda, “aku kawin lagi udah 4 bulan ini. aku menikah dengan janda beranak satu sekarang dia ada di Sumatra. Aku kawin siri, sekarang dia juga mengandung anakku umur 4 bulan. maaf aku nggak bilang kamu dulu” JEDDEEER hatiku terasa ditembak dari belakang, badanku kaku mataku rabun dipenuhi air mata yang akan jatuh. kemudian dia memelukku “maafkan aku, bukan berarti aku udah nggak cinta sama kamu, aku masih sayang aku sendiri nggak tau kenapa bisa mengambil langkah seperti ini”ucap suamiku.  Apakah aku pingsan atau tidak tapi aku masih merasakan kemana bola mata ini berputar. Aku pejamkan mataku kuremas dadaku “ya Allah…….”

Malam kelam berlalu. Aku merasa hari sudah jauh berbeda, kulihat dia sudah berpakaian rapi dan sarapan pagi bersiap untuk pergi kekantor. Suara mobilpun berlalu. aku kembali menenggelamkan diri di atas tempat tidur, kucari hpku. Kucari no telpon kakak iparku, ” halo mbak…”aku menangis”….santo kawin lagi katanya udah 4 bulan dengan janda sumatra sekarang dia lagi hamil anaknya santo”. Kakak iparku kaget mendengarnya, dia bilang dia akan bicara dengan ibu mertuaku untuk mengadakan pertemuan keluarga besok malam. Dari acara itu aku dengar semua ceritanya secara gamblang dari awal pertemuan mereka hingga menikah, aku hanya bisa menangis mendengarnya dan terus menangis. Akhirnya aku bertemu dengan dia, badannya jauh lebih langsing dari pada aku yang gendut. Dandanan wajahnyapun nyaris sempurna. Ia janda orang Taiwan.

Kini ia memiliki 2 keluarga, istri barunya dia boyong kejakarta. Kami tinggal dalam satu perumahan beda blok. Anakku yang pertama sering bertanya “ma kenapa papa pergi melulu?”.” siapa itu mami linda?”. Anakku pernah dibawa pergi papanya ke sumatra, tinggal dirumah mertua barunya, disana putriku sering melihat mereka berpelukan, berciuman dan tidur dalam satu ranjang. Teriris hatiku mendengar cerita ini dari putri sulungku. Tak henti-hentinya aku curhat dengan keluarga suamiku, ibu mertuaku. Tapi ibu mertuaku terus menyalahkan aku bahwa itu semua akibat ulahku yang nggak menghargai suamiku. Begitu pula keponakanku anak dari kakak iparku yang tertua, ia juga sudah berkeluarga dan memiliki anak. dia bilang klo omnya selama ini diam karena ketidaksetujuannya akan sikapku, dia bilang bahwa omnya menikah lagi karena dia butuh (Karena aku sering menolak suamiku berhubungan badan), dia bilang omnya menikah lagi karena dia butuh teman untuk berbicara. Yang ada perasaanku saat ini adalah pasrah , aku nggak ngerti harus bagaimana. Aku nggak tau apakah selama pernikahan ini memang aku yang salah???

– the end –