Kisah

Ya Allah Ampuni Aku…….

Aku berkenalan dengan seorang pemuda tampan yang selalu nongkrong dipinggir jalan. Pergi mengaji, pulang mengaji, pergi kepasar atau kemanapun aku sering melihat dia. Awalnya biasa saja bila melewatinya dan bertemu dengannya. Lama lama mulai terdengar suara-suara menggoda yang berdesis, hingga memanggil nama. Aku jadi perhatian, karena aku kaget karena lelaki itu memanggil namaku. Aku jadi mulai sering berharap bertemu dengan dia bahkan mengobrol dengan dia. Pada suatu malam dia berani mencegatku saat aku selesai pengajian di masjid

“assalamualaikum” katanya sambil tersenyum padaku. Aku tersontak dan tak berani menatapnya

“kamu mau apa?” jantungku berdebar kencang dan kencang sekali,

“tidak saya hanya ingin berkenalan” ucapnya sambil menyodorkan tangannya,

“maaf, saya tidak bisa menyentuh laki-laki yang bukan mukhrimnya” ucapku gemetar.

Dengan gugup aku pergi meninggalkannya. Ketika sampai dirumah aku tersenyum bahagia, aku bahagia karena kejadian yang barusan aku alami bahwa akhirnya aku mengenal dia.

Kami jadi sering bertemu, bahkan membuat janji. Saling bertukar nomer handphone hingga waktu ngajipun aku bisa sms dengan dia. Hatiku berbunga-bunga

“ ya Allah apakah ini cinta? Apakah aku sedang tertusuk panah asmara?”.

Hari-hari bagiku menjadi sangat indah.

Aku tinggal menumpang dirumah sebuah keluarga yang sangat sangat baik. Disitu aku bertugas untuk mengajar Quran dan hadis pada anak-anaknya bahkan bila ada waktu longgar bapak dan ibu anak-anak pun ikut belajar mengaji bersama kami. Bapak dan ibu orang yang sibuk, anak-anaknya tidak terlalu terlantar karena ada baby sitter yang mengurus mereka dan pembantu untuk mengurus rumah. Dari balik pintu kamarku aku mendengar anak-anak berbicara pada bapak dan ibu setelah tiba dari luar kota

“Bapak, mbak mukmin sekarang ga pernah ngajarin kita ngaji” kata putrinya yang pertama,

“masa sih koq bisa?” kata ibu sambil bercanda,

“ iya, habis mbak mukminnya pergi terus” kata si bungsu,

“masa sih. Iya, coba nanti bapak tanyakan mbak mukmin”.

Mendengar percakapan itu aku langsung membungkam mulutku dengan bantal sambil berteriak

“ya Allaaaaaaaaaaah, gimana ini? Aku harus jawab apa nanti klo bapak ibu bertanya ”.

Aku berpikir terus berpikir mencari alasan yang tepat. Dan…

“tok tok tok, mbak mukmin sudah tidur?”, aku kaget dan bingung

“mmm bell bellum mbu!”.

Kupersilahkan ibu masuk dalam kamarku

“maaf ya mengganggu” ucap ibu, aku hanya tersenyum.

“ anak anak tadi bilang katanya mbak mukmin sering pergi”,

“mm, nggak juga koq bu hanya sekali kali aja”

“anu…”lanjutku

“…saya pergi ke wartel untuk menelpon di kampung, ada berita klo bapak lagi sakit”

(aduu….h maaf pak, ya Allah mudah2 ga terjadi),

“ sakit apa?” kata ibu

“parah?” lanjutnya.

” Ga sih bu sakit stroke, ga bisa bangun. Saya menelpon untuk memberi support ibu agar ga terlalu sedih dan membantu mendoakan bapak”

( ya Allah ampuni aku ).

“terus kamu mau pulang?, ga apa2 klo memang harus pulang nanti saya ongkosi” kata ibu,

“ nggak koq bu ga pulang. Insya Allah bapak ga apaapa :D

” baiklah klo bagitu, klo memeng itu tidak terlalu mengkhawatirkan buat kamu, salam ya untuk bapak ibumu klo kamu menelpon lagi kesana” ucap ibu dengan tersenyum

“i iya bu terimakasih” jawabku

Lalu ibu pergi meninggalkan kamarku, aku nggak tau apakah ibu sudah merasa puas atau tidak dengan jawabanku tapi yang pastinya satu masalah sudah terlewati

Si Riu sms mengajakku pergi ke BM (nama tempat, yang disitu biasa dipakai sebagai arena balapan liar). Aku membalas smsnya

“duh, nanti deh jangan sekarang”.

Katanya dia akan menjemputku dan aku akan diperkenalkan disana sebagai kekasihnya. Bayanganku indah saat dia mengatakannya, akhirnya aku atur jadwal yaitu malam minggu. Biasa di waktu itu tiap satu bulan sekali aku mendapat jatah giliran piket dimesjid hingga subuh. Akhirnya tepat jam 12 malem aku ijin meninggalkan masjid karena ada keperluan, Riu menjemputku dan aku bergoncengan dengannya. Tanganku duingin, jantungku berdebar, ini pengalaman pertamaku berboncengan dengan seorang lelaki, namun aku tak dapat menikmati kebahagiaan saat berada diatas motor itu. Nama dia tak asing dalam komunitas mereka (para pembalap liar) ternyata dia salah seorang yang handal. Dan kehandalnnya itu di jadikan sebagai judi. Aku marah juga sempet ngambek dengannya karena ku katakan klo…

“ …judi itu haram”

Semenjak itu, menjadi awal diriku mulai sering berboncengan dengannya. Jadi sering ke mall, keliling kota, kongkow hingga aku ia bawa kerumah kosnya. Dia buruh pabrik, asalnya bukan dari kota sini melainkan dari suatu kampung. Disana kami sering berdua, terasa enaaaak sekali, hangat dan romantis. Pertama tama dari hari kehari ia menyentuh tanganku, mencium bibirku hingga akhirnya kami tidur dalam satu alas. Hatiku berdebar ku ingat selalu kata “ZINAH”, kurasakan tangannya membelai lembut tubuhku, kurasakan dia mencium-cium leherku, ku dengar bunyi nafasnya yang terburu-buru dan penuh nafsu, tiba-tiba ia berhenti

“…aku masukin ya” ucapnya sambil tersenyum seksi,

“ jangan aku takut, kata orang sakit” ucapku sambil menggoda. Akhirnya kami memutuskan menggunakan tangan sebagai percobaan. Aku pulang dan menangis, aku bingung dan takut

Setelah kejadian itu musibah beruntun datang padaku. Ada orang pengajianku yang memergoki aku sering berboncengan dengan Riu. Riu meminta aku untuk menikah dengan dia, namun posisiku sudah terisolasi. Riu mengatakan klo dia akan menceritakan semuanya agar aku bisa menikah dengannya, Aku jadi bermusuhan dengannya

Aku dipulangkan kekampung halaman, kedua orang tuaku tidak tahu bahwa masalahku lebih berat dari sekedar boncengan dan pacaran. Aku menikah dan kini sudah memiliki seorang anak, Aku berjanji pada diriku bahwa itu akan selalu kututup rapat dalam kenanganku. tak ada seorangpun yang tahu hanya aku dengan Allah yang tahu peristiwa itu, hatiku, dan tobatku atas peristiwa itu

- the end -

Keikhlasan Cinta Untuk Agamaku

Aku lulusan dari salah satu pondok pesantren di Jawa Timur. Statusku kini adalah seorang muballigh. Aku diutus oleh guruku untuk mengajarkan islam di Irian Jaya. Masa tugasku kurang lebih 1,5 tahun disana. Perjalanan amat panjang. Saku yang diberikan tidak mencukupi untuk ongkos dan kehidupanku disana nanti. Demi agama, aku rela “niat karena Allah dalam fisabilillah”. Kuputuskan untuk menumpang kapal barang. Katanya 30 hari aku bisa sampai di Irian. Ku beli mi instant satu dos untuk bekal. Dan akupun berlayar
Berbagai kegiatan kulakukan diatas kapal. Makan, minum, mandi, tidur, mengaji dan pastinya sambil berda’wah. Ya, alhamdulillah ada beberapa awak kapal yang mulai sholat lima waktu, dan bisa membaca Alquran.

“alhamdulillah” ucapku begitu melihat pulau itu. Pulau Irian katanya.
Begitu aku turun ada orang menyambutku “assalamualaikum, alhamdulillah. Sehat mas?” kata bapak itu. “alhamdulillah sehat. Perjalanan amat panjang” ucapku. Kamipun tertawa kemudian ia menuntunku menuju motornya. Perjalanan sekitar 2 jam
Kulihat bangunan berwarna hijau amat sangat sederhana diatasnya ada kubah yang berukuran sedang. “ini masjid di desa kami mas”, “disini ada sekitar 20 kk”. Aku mengangguk-angguk mendengar segala keterangan dari pak kepala desa. Disana aku bener-bener disambut dan dijamu. Seneeng banget
Setengah bulan terlewati, ada seorang gadis yang selama waktu itu membuat aku tertarik. Dari pakaiannya, tutur bicaranya, dari caranya membaca Alqur’an. Gadis itu seorang muballighoh. Setahun yang lalu ia bertugas disini. Kami berdua sering sharing/musyawarah tentang agama, masyarakat sekitar, dll.
Di masa tugasnya yang berakhir ia memutuskan untuk menetap disini “perjuangan disini amat besar mas. Tekad saya bener-bener bulat di fisabilillah dan mati dalam keadaan yang sangat baik (mati sahid)” jawabnya setelah aku bertanya akan keputusannya. Aku bangga mendengarnya. Malam setelah aku berbicara dengannya kuputuskan untuk menikahinya. Esok harinya aku melapor kepada pak kepala desa akan niatku. Jawabannya “ bungkuuus”
Namun tiba-tiba pak kepala desa datang ke kamarku di sebelah masjid. Katanya ada telpon dari pondok pesantren “penting”. “amal soleh kamu berangkat ke jawa tengah besok, karena kamu dibutuhkan disini. Ada muballigh penggantimu ia sudah berangkat kemarin dengan pesawat terbang” ucap guruku. Pikiranku kacau, berbagai kalimat hanya berputar dikepalaku tak bisa terucap. “iya pak. Alhamdulillahi djaza Kaullahu Khoiro” ucapku. Obrolanpun terputus. Aku ga tau berpikir mulai dari mana, gadisku, ongkosku, caraku menuju kesana. Segera aku lari kerumah pak kepala desa kukatakan bahwa aku harus ke jawa tengah besok. Kepala desa dan beberapa kepala keluarga lain mulai kelimpungan dan sigap.
Kukatakan pada gadisku bahwa aku janji akan menikahinya. Aku juga sudah bertemu dengan muballigh penggantiku. Gadisku berkata “saya akan menunggumu hingga kamu kembali”
Hatiku tenang, aku pergi tanpa beban dikepala. Aku diterbangkan dengan helicopter. Dipiloti oleh teman baik pak kepala desa. Perjalanan berlanjut terus dengan saling mengoper dari banud satu ke banud lain sampai ke jawa. Disana aku dijemput oleh saudara salah satu warga irian yang aslinya dari jawa.
Tibalah aku di tempat tujuan. Disana sedang terjadi konflik. Aku dibutuhkan untuk membantu meredakan suasana. Ketegangan mulai reda. Kegiatan mulai berjalan normal. Tiba suatu hari aku ditangkap polisi, dipenjara selama 6 tahun, aku difitnah. Aku pasrah dan Ikhlas
6 tahun masa pembebasanku, ku cium tanah depan gerbang pintu LP “ Alhamdulillah ya Allah”
Ku tanyakan tentang gadisku pada muballigh penggantiku saat berada di Irian katanya ia sudah menikah. Aku istirjak berharap akan yang lebih terjadi kepadaku
Aku kembali ke pondok. Bertemu kangen dengan guruku, disana pula aku menyunting seorang gadis
Puluhan tahun berlalu kegiatan ke muballighanku setelah menikah tidak berhenti. Aku tetap aktif berda’wah kesana kemari dari pulau kepulau meninggalkan anak istri.
Acara akbar diadakan di salah satu daerah di jawa timur. Disana berkumpul para ulama-ulama besar. Disana pula aku bertemu dengan dia gadisku yang kedua kalinya. Ia kaget “kamu???”ucapnya, saya hanya tersenyum. “kamu masih hidup??” aku bingung mendengar ucapannya “kata temanmu kamu sudah meninggal dipenjara”,”innalillahi wa inna ilaihi roji’un” kataku “ siapa yang bilang begitu??” tanyaku heran, “Mahmud”jawabnya,”innalillahi wa inna ilaihi roji’un”. Mahmud adalah teman pondokku. Kebetulan ada suatu hal juga ia ke Irian dan mengenal gadisku. Warga disana sudah mengetahui bahwa gadisku adalah calonku. Kamipun bercerita meluruskan kesalah pahaman yang terjadi sambil tertawa lucu. Dan ternyata gadisku itu sekarang sudah janda, mahmud meninggal karena sakit yang di deritanya. Bisa aja aku menjadikannya istri yang kedua, tapi… Aku merasa belum mampu. Gadiskupun dinikahi oleh orang lain juga sebagai istri yang kedua.
Inilah qadar Allah. Yang ada ikhlas, pasrah dan berdoa

- the end -

Istri yang Teraniaya

Aku wanita berumur 40 tahun menikah 12 tahun yang lalu. Alhamdulillah sekarang memiliki 2 orang putri yang cantik dan lucu. Setelah lama menunggu dan hampir pupus bahwa kami tidak akan memiliki keturunan akhirnya pada tahun ke 4 pernikahan kami aku hamil yang pertama. Benar-benar rasanya dunia dipenuhi dengan pelangi, semua orang tersenyum baik yang dikenal maupun tak dikenal seolah merekapun mengetahui akan kebahagiaan kami. Aku menjadi lebih manja dengan suamiku. minta ini itu mau kesana kesitu dituruti. Seneng deh. Penyakit kulit yang dulu pernah aku alami saat kehamilan tua kambuh lagi. seperti bentol melebar, kemerahan, rasanya gatal sekali. bentol itu tumbuh bukan hanya di satu tempat. Bentol itu tumbuh di tepi kening, 2 siku tangan, juga 2 lututku. Saat memeriksakan diri kedokter katanya itu kambuh karena pengaruh stress. Aku nggak ngerti, stress kenapa? perasaan aku enjoy menjalani kehamilan ini malah gembira. Tapi emang ada sedikit rasa cemas, karena kehamilan pertama, yang kata orang begini begitu, dll. Setelah beberapa bulan mendekati masa kelahiran mendadak kepalaku pusiiing berat, pundak dan tengkuk rasanya tegang, saat diperiksakan ternyata aku kena darah tinggi. terus terang aku tegang. Kata orang, melahirkan itu bagaikan berdiri di ambang kematian. “tenang bu, santai aja nanti saya bantu koq. saya selalu standby dihari H nya. Serahkan semua sama saya, percaya deh” kata dokter kandungan laki-laki muda di salah satu rumah sakit terkemuka. Setelah beberapa minggu menjalani pemeriksaan rutin setiap hari tibalah saatnya dengan sedikit kepanikan dan perjuangan lahirlah seorang anak perempuan secara normal “alhamdulillah”

5 tahun berlalu, kami membesarkan anak pertama kami dengan berpindah-pindah karena tuntutan pekerjaan suami. Suami sering pergi keluar kota, keluar negri meninggalkan kami berdua kadang 2 minggu bahkan 1 bulan. Sedih, apalagi saat si buah hati menanyakan ayahnya disaat pergi, saat sakit. Tapi apa boleh buat, keadaan sudah ditentukan begini. Aku merasa keadaanku terasa lain, mual pusing, akhirnya aku melakukan test pack hasilnya positif. Kehamilan kedua ini rasanya lain, biasa dan ga bis bermanja-manja karena suamiku sering pergi. Anakku lahir perempuan kedua diusia anakku yang tertua menginjak 6 tahun, “Alhamdulillah”.

“aku mau mengatakan sesuatu?” ucap suamiku sebelum tidur, aku heran koq tumben dia berbicara. selama menikah mungkin aku bisa menulis diatas kertas berapa kali dia berbicara. “besok aja, udah malam”ucapku. “nggak, aku mau bicara sekarang”ucapnya,”kenapa mas?”,”aku kawin lagi”, “kamu itu ngomong apa nggak lucu”kataku nggak percaya, “aku kawin lagi udah 4 bulan ini. aku menikah dengan janda beranak satu sekarang dia ada di Sumatra. Aku kawin siri, sekarang dia juga mengandung anakku umur 4 bulan. maaf aku nggak bilang kamu dulu” JEDDEEER aku merasa ditikam dari belakang, badanku kaku mataku rabun dipenuhi air mata yang akan jatuh. kemudian dia memelukku “maafkan aku, bukan berarti aku udah nggak cinta sama kamu, aku masih sayang aku sendiri nggak tau kenapa bisa mengambil langkah seperti ini”. Apakah aku pingsan atau tidak tapi aku masih merasakan kemana bola mata ini berputar. Aku pejamkan mataku kuremas dadaku “ya Allah…….”

Malam kelam berlalu. Aku merasa hari sudah jauh berbeda, kulihat dia sudah berpakaian rapi dan sarapan pagi bersiap untuk pergi kekantor. Suara mobilpun berlalu. aku kembali menenggelamkan diri di atas tempat tidur, kucari hpku. Kucari no telpon kakak iparku, ” halo mbak…”aku menangis”….santo kawin lagi katanya udah 4 bulan dengan janda sumatra sekarang dia lagi hamil anaknya santo”. Kakak iparku kaget mendengarnya, dia bilang dia akan bicara dengan ibu mertuaku untuk mengadakan pertemuan keluarga besok malam. Dari acara itu aku dengar semua ceritanya secara gamblang dari awal pertemuan mereka hingga menikah, aku hanya bisa menangis mendengarnya dan terus menangis. Akhirnya aku bertemu dengan dia, badannya jauh lebih langsing dari pada aku yang gendut. Dandanan wajahnyapun nyaris sempurna. Ia janda orang Taiwan.

Kini ia memiliki 2 keluarga, istri barunya dia boyong kejakarta. Kami tinggal dalam satu perumahan beda blok. Anakku yang pertama sering bertanya “ma kenapa papa pergi melulu?”.” siapa itu mami linda?”. Anakku pernah dibawa pergi papanya ke sumatra, tinggal dirumah mertua barunya, disana putriku sering melihat mereka berpelukan, berciuman dan tidur dalam satu ranjang. Teriris hatiku mendengar cerita ini dari putri sulungku. Tak henti-hentinya aku curhat dengan keluarga suamiku, ibu mertuaku. Tapi ibu mertuaku terus menyalahkan aku bahwa itu semua akibat ulahku yang nggak menghargai suamiku. Begitu pula keponakanku anak dari kakak iparku yang tertua, ia juga sudah berkeluarga dan memiliki anak. dia bilang klo omnya selama ini diam karena ketidaksetujuannya akan sikapku, dia bilang bahwa omnya menikah lagi karena dia butuh (Karena aku sering menolak suamiku berhubungan badan), dia bilang omnya menikah lagi karena dia butuh teman untuk berbicara. Yang ada perasaanku saat ini adalah pasrah , aku nggak ngerti harus bagaimana. Aku nggak tau apakah selama pernikahan ini emang aku yang salah???

- the end -


Tinggalkan Balasan