Ya Allah ampuni aku…….
21 06 2008Aku berkenalan dengan seorang pemuda tampan yang selalu nongkrong dipinggir jalan. Pergi mengaji, pulang mengaji, pergi kepasar atau kemanapun aku sering melihat dia. Awalnya biasa saja bila melewatinya dan bertemu dengannya. Lama lama mulai terdengar suara-suara menggoda yang berdesis, hingga memanggil nama. Aku jadi perhatian, karena aku kaget karena lelaki itu memanggil namaku. Aku jadi mulai sering berharap bertemu dengan dia bahkan mengobrol dengan dia. Pada suatu malam dia berani mencegatku saat aku selesai pengajian di masjid “assalamualaikum” katanya sambil tersenyum padaku. Aku tersontak dan tak berani menatapnya “kamu mau apa?” jantungku berdebar kencang dan kencang sekali, “tidak saya hanya ingin berkenalan” ucapnya sambil menyodorkan tangannya, “maaf, saya tidak bisa menyentuh laki-laki yang bukan mukhrimnya” ucapku gemetar. Begitu sampai dirumah aku tersenyum bahagia. Aku bahagia atas kejadian yang barusan aku alami. Akhirnya aku mengenal dia.
Kami jadi sering bertemu, bahkan membuat janji. Saling bertukar nomer handphone hingga waktu ngajipun aku bisa sms dengan dia. Hatiku berbunga-bunga “ ya Allah apakah ini cinta? Apakah aku sedang tertusuk panah asmara?”. Hari-hari bagiku menjadi sangat indah. Aku tinggal menumpang dirumah sebuah keluarga yang sangat sangat baik. Disitu aku bertugas untuk mengajar Quran dan hadis pada anak-anaknya bahkan bila ada waktu longgar bapak dan ibu anak-anak pun ikut belajar mengaji. Bapak dan ibu orang yang sibuk, anak-anaknya tidak terlalu terlantar karena ada baby sitter yang mengurus mereka dan pembantu untuk mengurus rumah. Dari balik pintu kamarku aku mendengar anak-anak berbicara pada bapak dan ibu setelah tiba dari luar kota “Bapak, mbak mukmin sekarang ga pernah ngajarin kita ngaji” kata putrinya yang pertama, “masa sih koq bisa?” kata ibu sambil bercanda, “ iya, habis mbak mukminnya pergi terus” kata si bungsu, “masa sih. Iya, coba nanti bapak tanyakan mbak mukmin”. Mendengar percakapan itu aku langsung membungkam mulutku dengan bantal sambil berteriak “ya Allaaaaaaaaaaah, gimana ini? Aku harus jawab apa nanti klo bapak ibu bertanya L”. Aku berpikir terus berpikir mencari alasan yang tepat. Dan… “tok tok tok, mbak mukmin sudah tidur?”, aku kaget dan bingung “mmm bell bellum mbu!”. Kupersilahkan ibu masuk dalam kamarku
Komentar : Tidak ada komentar »
Kategori : Kisah
Komentar Terakhir